Update Terkini

Berita & Informasi

Kumpulan berita, artikel, dan informasi kegiatan terbaru dari lingkungan LPTNU Banten.

PENDIDIKAN

RELEVANSI PEMIKIRAN KH AHMAD MAIMUN ALIE DENGAN ZAMAN KONTEMPORER

ADMIN LPTNU
31 Desember 2025
RELEVANSI PEMIKIRAN KH AHMAD MAIMUN ALIE DENGAN ZAMAN KONTEMPORER
Pemikiran pendidikan KH. Ahmad Maimun Alie memiliki relevansi yang kuat dengan sistem Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI) yang diterapkan di Pondok Pesantren Subulussalam. Sistem KMI sebagai model pendidikan terpadu menekankan keseimbangan antara penguasaan ilmu, pembentukan karakter, dan pembinaan spiritual. Prinsip-prinsip ini sejalan dengan pandangan KH. Ahmad Maimun Alie yang memandang pendidikan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya, bukan sekadar proses akademik formal.
Relevansi pertama terlihat pada orientasi tujuan pendidikan. Sistem KMI Subulussalam tidak hanya bertujuan mencetak lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak dan siap mengabdi di tengah masyarakat. Hal ini sejalan dengan pemikiran KH. Ahmad Maimun Alie yang menempatkan pembentukan akhlak al-karimah sebagai tujuan utama pendidikan. Dalam praktik KMI, tujuan ini tercermin melalui integrasi pendidikan kelas, pembiasaan ibadah, dan kehidupan asrama yang disiplin. Santri KMI Subulussalam dibentuk tidak hanya sebagai pelajar, tetapi sebagai calon pendidik dan kader umat yang memiliki integritas moral.
Relevansi kedua tampak pada posisi guru dalam sistem KMI. Dalam KMI Subulussalam, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar mata pelajaran, tetapi juga sebagai pembimbing dan teladan bagi santri. Pola hubungan guru–santri yang dekat dan berkelanjutan mencerminkan pandangan KH. Ahmad Maimun Alie tentang peran guru sebagai pewaris misi keilmuan dan moral. Guru KMI diharapkan menjadi figur yang konsisten antara ucapan dan perbuatan, sehingga nilai-nilai pendidikan tidak hanya diajarkan, tetapi juga diteladankan.
Relevansi berikutnya terlihat pada kurikulum integratif KMI. Sistem KMI Subulussalam mengintegrasikan ilmu-ilmu agama dan ilmu umum dalam satu kesatuan kurikulum. Pendekatan ini sejalan dengan pemikiran KH. Ahmad Maimun Alie yang menolak dikotomi ilmu. Menurut beliau, ilmu agama dan ilmu umum harus saling melengkapi dalam membentuk santri yang berwawasan luas namun tetap berakar pada nilai-nilai Islam. Kurikulum KMI yang berjenjang dan berorientasi jangka panjang mencerminkan prinsip kaderisasi dan keberlanjutan keilmuan yang menjadi perhatian utama KH. Ahmad Maimun Alie.
Relevansi pemikiran beliau juga tampak pada metode pembelajaran KMI Subulussalam. Sistem KMI mengombinasikan metode klasikal, pengajaran kitab, diskusi, dan pembiasaan kehidupan pesantren. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan KH. Ahmad Maimun Alie yang menekankan pentingnya keteladanan, pembiasaan, dan pendampingan personal dalam pendidikan. Santri KMI tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga melalui pengalaman hidup di pesantren, sehingga pendidikan berlangsung secara menyeluruh dan berkesinambungan.
Dalam konteks posisi santri sebagai subjek pendidikan, sistem KMI Subulussalam memberikan ruang bagi santri untuk aktif belajar, berorganisasi, dan bertanggung jawab terhadap kegiatan pesantren. Hal ini sejalan dengan pemikiran KH. Ahmad Maimun Alie yang memandang santri sebagai individu yang harus dilatih kemandirian dan kesadaran dirinya. Melalui sistem asrama dan kegiatan ekstrakurikuler KMI, santri dilatih menjadi pribadi yang disiplin, mandiri, dan memiliki kepedulian sosial.
Relevansi pemikiran KH. Ahmad Maimun Alie juga terlihat dalam sikap selektif terhadap modernisasi pendidikan. Sistem KMI Subulussalam membuka diri terhadap pembaruan metode dan sarana pendidikan, termasuk pemanfaatan teknologi, namun tetap menjaga nilai-nilai adab, kedisiplinan, dan spiritualitas. Sikap ini sejalan dengan pandangan KH. Ahmad Maimun Alie yang menekankan adaptasi terhadap zaman tanpa kehilangan jati diri pesantren.
Secara keseluruhan, pemikiran KH. Ahmad Maimun Alie menemukan aktualisasinya dalam sistem KMI Pondok Pesantren Subulussalam. Keselarasan antara tujuan pendidikan, peran guru, kurikulum, metode pembelajaran, dan posisi santri menunjukkan bahwa sistem KMI bukan hanya relevan secara struktural, tetapi juga sejalan secara filosofis. Dengan demikian, sistem KMI Subulussalam dapat dipandang sebagai wujud konkret dari pemikiran pendidikan KH. Ahmad Maimun Alie yang tetap relevan dalam menghadapi tantangan pendidikan Islam di era kontemporer.

Bagikan Berita Ini